Tiger Story : Tugu Nol Kilometer Indonesia

Dengan jatah waktu cuti pada saat itu yang diberikan hanya 12 hari kalendar, kami sukses mengukir sejarah perjalanan touring menuju Tugu Nol Kilometer Indonesia – Pulau Weh selama 11 hari saja! Di lakoni 2 orang Tigerian sinting pada Maret 2011, Mac Of Torque menunggangi Honda Tiger Silver a.k.a Iblistua bersama BriGil dengan Honda Tiger Black a.k.a Jabrik dengan setingan motor kantoran namun tetep sinting upss semangat dalam safety riding kami mampu menembus pulau besar di indonesia, Pulau Sumatra!

Mac Of Torque - Nol Kilometer Indonesia

Tanya : “Nekat ceritanya nih ke Nol KM Indonesia pake motor kantoran?

Jawab : “Tidakkkkk!!! kami tidak nekat! tapi kami hanya JUST DO IT dan paham arti seni menikmati mengendarai motor Tiger kami kemanapun, ulangi.. kemanapun! Dipikiran kami waktu itu cuma yakin kalo tuhan dan alam semesta akan melindungi kami setiap detik, titik. kami hanya menggunakan Helm half face, jaket gunung dan perlengkapan seadanya, karena apa? importir helm & apparel dulu masih jarang coy (ngeles mode)” wkwkwkwk

Tipe riding keberangkatan adalah shoot on target alias tidak berhenti ke tujuan hanya istirahat lalu kembali jalan guna manajemen waktu yang mepet. Awal perjalanan dimulai dari meeting point Pom Bensin Total Jakarta Barat (sekarang uwis closed) dilanjut menuju Merak dan menyebrang ke Bakauheuni Lampung. Lumayan bisa istirahat di kapal ferry selama 3 jam dan setelah tiba di Dermaga lanjut mengambil

Mac Of Torque - Pelabuhan Ulee Lheue

rute jalur timur Pulau Sumatra via Way Kambas, Palembang, Jambi, Riau, Medan hingga dihari ke-3 tibalah kami kota Banda Aceh pada dini hari kemudian dilanjutkan menuju Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyebrang ke Pulau Weh dengan KM Express Cantika.

Tiba di Pelabuhan Balohan – Pulau Weh, kami kembali riding menuju puncak destinasi perjalanan kami dengan kontur jalan di pinggir pantai yang berkelok-kelok di hiasi tikungan tajam serta hutan belantara dan akhirnya kami tiba dengan selamat di Tugu Nol Kilometer Indonesia. Alhamdulillah.

Tanpa basa basi kami langsung mengelilingi area Tugu Nol Kilometer Indonesia yang menjadi “icon” para bikers Indonesia dan berfoto-foto mengabadikan perjalanan kami. Sekilas mengenai Tugu Nol KM ini pada saat kami kesana berupa bangunan berwarna outih berkelir merah muda dan tampak pula prasasti kordinat & peresmian oleh pejabat negara. Dan bagi mereka yang sudah datang ke tugu ini akan mendapatkan sertifikat resmi dari Walikota Sabang sebagai kenang – kenangan.

Sertifikat Kilometer Nol Indonesia

Setelah kami berhasil mendapat Sertifikat Nol Kilometer Indonesia yang bagi kami sebagai bentuk penghormatan atas kesuksesan perjalanan kami, kami merubah perjalanan balik ke Jakarta dengan tema touring wisata menuju tempat-tempat terbaik. Bermula dari Pantai Iboih & Pantai Gapang kami menikmati hamparan pasir putih dan angin sepoi-sepoi hingga kami tertidur lelap di pinggir pantai (abang lelah neeennggg) sampai maghrib. Dilanjut kuliner malam di food court kota Sabang memilih makanan kemenangan kami yaitu Mie Aceh yang pedas pake nasi dan tak ketinggalan pula Kopi Gayo khas Aceh yang fenomenal.

Keesokan harinya sebelum kami menuju Pelabuhan Balohan Sabang, kami sempatkan photostop ke Pantai Anoi Itam yang memiliki pasir yang berwarna hitam dan lautan yang tenang lalu dilanjut ke pelabuhan untuk menyebrang ke Pulau Sumatra. Setelah sampai di Pelabuhan Ulee Lheue kembali kami lanjut Wisata Tsunami Kapal PLTD Apung, Mesjid Baiturrahman dan kuliner di kota Banda Aceh. Cuaca selama perjalanan baik di Pulau Weh ataupun di Banda Aceh cukup cerah hingga pada siang hari panas terik dan Tiger kami pun tidak menemukan kendala apapun hanya saja beberapa parts seperti pengecekan rem dan rantai yang harus di lumasi. Tak lupa pula kami memberikan makanan bergizi dan vitamin guna menjaga kondisi tubuh kami tetap prima.

Setelah dinyatakan semua sudah oke, perjalanan dilanjutkan menuju Medan melewati kota Binjai lalu menyusuri Berastagi yang tampak pula Gunung Sinabung hingga dilanjutkan menuju Taman Simalem Resort yang terletak di dataran tinggi Tongging. Ditempat ini sangat luar biasa, panorama Danau Toba dapat dilihat seluas mata memandang dan tampak dikejauhan dataran Pulau Samosir. Kami benar – benar menikmati alam disini dengan suasana yang sejuk dan epic.

Perjalanan dilanjutkan mengitari pinggiran Danau Toba sejauh kurang lebih 100 KM menuju Parapat, tak lupa kami berhenti istirahat untuk makan khas daerah tersebut yaitu Ikan Pora – Pora yang garing dan legit. Lalu di lanjut menuju Siborong-borong meninggalkan Danau Toba yang spektakuler menuju tanah minang yaitu Bukittinggi. Mampir di Jam Gadang Bukittinggi yang terdapat biker-biker yang sedang menikmati kopdar, kami menghabiskan malam ditempat ini hingga esok hari.

Keesokan paginya kami tak menyia-nyiakan waktu menuju tempat wisata alam di Bukittinggi yaitu Ngarai Sianok, sebuah lembah dengan tebing-tebing curam yang menjadi daya tarik wisata di Sumatera Barat dan tak jauh dari situ terdapat Lobang Jepang sebuah gua peninggalan jaman penjajahan Jepang yang didalamnya terdapat bekas penjara tawanan dan tempat logistik. Cukup lama kami mengitari tempat bersejarah ini dengan perasaan ngeri terbayang pada saat kejadian dahulu.

Kemudian perjalanan panjang ini dilanjut menuju kota Padang via Danau Singkarak menuju area pantai barat hingga Pelabuhan Teluk Bayur. Menyusuri pantai menuju kota Painan dan tentunya mampir photostop di Bukit Langkisau, bukitterjal tempat aktifitas paralayang dengan panorama garis pantai, lautan yang tenang, sunset tampak gugusan Kepulauan Mentawai! Satu kata untuk tempat ini : ruarrr biayasahh!

Pesona perjalanan pinggir pantai barat sumatra dengan kontur yang berbukit dan lurus menjadi semangat kami laksana berada di sirkuit Isle of Man TT! Tak ketinggalan pula makan duren murah di Bengkulu yang harganya cuma Rp.5.000,- Rp.10.000,- per buah! Kami pun kalap belinya (bukan makannya loh :p).

Perjalanan di akhiri di Kedai Kopi Lampung yang lupa nama tempatnya hingga kembali ke Pelabuhan Bakauhuni Lampung kembali ke Pulau Jawa dan kerumah masing-masing dengan ancaman selanjutnya yaitu……..kembali bangun pagi dan bekerja! Ok!

Sekelumit cerita Tiger Diary dari kami menembus Tugu Nol Kilometer Indonesia.

Tiger Iblistua & Jabrik
Goes to Nol KM Indonesia
Maret 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: