Rumah Betang : Rumah Adat Suku Dayak di Palangkaraya

Hampir setiap provinsi di Indonesia punya rumah adatnya masing-masing. Jika liburan ke Palangkaraya, sempatkan melihat Rumah Betang khas Suku Dayak.

Sudah sejak dulu, Suku Dayak telah mendiami Kalimantan Tengah dan beberapa provinsi lain di Kalimantan. Keberadaan Suku Dayak pun semakin meramaikan khazanah budaya Nusantara, khususnya lewat Rumah Betang yang menjadi kediaman mereka.

Bagi traveler yang tengah berkunjung ke Palangkaraya di Kalteng dan ingin melihat rumah adat Dayak, langkahkan saja kaki kamu ke Jalan DI Panjaitan No 3, Palangkaraya. Di sana traveler bisa menemui gedung Balai Budaya Eka Tingang Nganderang yang berbentuk Rumah Betang.

Dilihat dari situs resmi Disbudpar Kalimantan Tengah, Kamis (4/5/2017), sejatinya Rumah Betang menjadi rumah adat bagi sejumlah Suku Dayak yang masih tinggal secara tradisional di bantaran hulu sungai.

Secara teknis, Rumah Betang selalu memiliki bentuk rumah panggung dan dibuat memanjang. Kayu ulin yang terkenal keras pun menjadi bahan utama dari Rumah Betang.

Di bagian tengah rumah, sebuah anak tangga dengan dua sisi pun menjadi penghubung antara halaman dan rumah. Di bagian depan rumah pun lazim dijumpai beberapa tiang Sapundu yang umum digunakan untuk mengikat binatang dalam upacara adat.

Itu baru di bagian depan, jangan lupakan bagian belakangnya. Umumnya, di bagian belakang rumah dapat ditemukan sebuah bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen hingga sejata. Bahkan ada juga bangunan khusus untuk menyimpan tulang keluarga yang telah meninggal hingga rumah pemujaan leluhur.

Adapun sebuah Rumah Betang memiliki tiga komponen utama yang harus ada. Antara lain ruang depan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat, Karung atau bilik keluarga yang menjadi tempat tidur, serta likid atau ruang dapur. Sejumlah ukiran yang erat kaitannya dengan budaya Dayak pun banyak menghiasi rumah.

Namun di balik bentuk fisiknya yang memanjang dan kokoh, tersimpan makna yang dijaga turun temurun dari leluhur. Mulai dari gambaran tata desa, organisasi sosial hingga sistem kemasyarakat, semua tertuang dalam satu Rumah Betang.

Diketahui, kalau satu Rumah Betang selalu dihuni oleh satu keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga kecil. Di mana dalam satu keluarga besar dipimpin oleh seseorang yang dikenal sebagai Pembakas Lewu.

Secara sosial, Rumah Betang pun menjadi tempat penanaman nilai keluarga hingga wadah untuk saling bertukar pikiran. Tidak mengapa, komunitas Dayak sangat erat satu sama lain. Nilai itu lah yang ditanamkan lewat Rumah Betang.

Dalam beberapa Suku Dayak, pembangunan Rumah Betang pun dilakukan dengan tata cara dan persyaratan tertentu. Mulai dari lokasi rumah yang harus berada di hulu sampai arahnya yang harus sejajar dengan matahari terbit, tidak sembarangan.

Nah, gedung Balai Budaya Eka Tingang Nganderang yang terletak di pusat kota Palangkaraya juga dibuat semirip Rumah Betang aslinya. Hanya saja, gedung ini lebih dipakai sebagai tempat pertemuan hingga tempat pembelajaran budaya dan tidak ditinggali seperti Rumah Betang asli.

Namun walau begitu, traveler bisa mengagumi interior dan eksterior Balai Budaya Eka Tingang Nganderang saat liburan ke Palangkaraya. Tidak ada salahnya memperkaya pengetahuan dengan berkunjung langsung ke Rumah Betang : Rumah Adat Dayak di Palangkaraya

Sumber : Detik Travel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: